bunurzum tugas

Iklan

Contoh Pencatatan murid di buku induk

Pencatatan murid di buku induk

  1. Nama murid :                                               Induk :…………
  2. Jenis kelamin :
  3. Tempat/tgl lahir :
  4. Warga negara :
  5. Agama :
  6. Anak ke :
  7. Alamat :
  8. Asal sekolah :
  9. Di terima tanggal                :
  10. Di kelas :
  11. Nama orang tua/wali          :

b.Kelas                                   :

  1. Alasan :
  2. Tamat kelas :

STTB No……

tanggal                                    :

  1. Meneruskan ke sekolah :
  2. Keterangan lain-lain :

 

 

Contoh formulir pendaftaran siswa

CONTOH
FORMULIR PENDAFTARAN
Sekolah : MA Plus Nururrohmah No : 120
Nama calon : Alfa A. Asal Sekolah : MTs N Kebumen
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat / tgl. lahir : Kebumen, 11-01-1996
Bangsa : Indonesia
Agama :Islam
Anak ke :1
Alamat :Kebumen
Nama orang tua/wali :Furqon
Pendidikan :
Pekerjaan :Guru
Alamat pekerjaan :Kebumen
Keterangan lain-lain :
Catatan:
Diterima/ ditolak di kelas :  diterima dikelas 10 A          Kebumen,12 juni 2012

 

( Sri w. S.Pd)                                                                        ( Alfa ardiningrum)
Panitia Penerima

Resume Media Pengajaran Bab IV Gambar Fotografi

A. Gambar fotografi digunakan untuk tujuan pembelajaran individual atau kelompok yang dibantu  dengan proyektor OPEK

B. Produksi gambar fotografi dalam mengambil gambar yang perlu diperhatikan yaitu jarak, kecepatan dan diafragma. Adapun komposisi dalam memotret pada suatu objek ada 3 yaitu: kombinasi diagonal, kombinasi segitiga, dan kombinasi terowongan.

C. Keuntungan gambar fotografi

  1. Mudah dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar, karena praktis tanpa memperlukan perlengkapan apa – apa.
  2. Harga relatif murah.
  3. Gambar fotografi bisa dipergunakan dalam banyak hal, untuk berbagai jenjang pengajaran dan berbagai disiplin ilmu.
  4. Gambar fotografi dapat menerjemahkan konsep atau gagasan yang abstrak menjadi realistik.

D. Kelemahan

  1. Beberapa gambarnya sudah cukup memadai akan tetapi tidak cukup besar ukurannya bila dipergunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar, kecuali bilamana diproyeksikan melalui proyektor.
  2. Gambar fotografi adalah berdimensi dua, sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga.
  3. Gambar fotografi bagaimana pun indahnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup. Namun demikianbeberapa gambar fotografi seri yang disusun secara berurutan dapat memebrikan kesan gerak dapat saja dicobakan, dengan maksud guna daya efektifitas proses belajar mengajar.

Resume buku media pengajaran karya Dr. Nana Sudjana Bab II KETERBACAAN VISUAL SEBAGAI DASAR MEDIA PENDIDIKAN

Dari hasil penelitian Seth Spaulding tentang bagaimana siswa belajar melalui gambar – gambar, dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. ilustrasi gambar merupakan perangkat pengajaran yang dapat menarik minat belajar siswa secara efektif.
  2. Ilustrasi gambar merupakan perangkat tingkat abstrak yang dapat ditafsirkan berdasarkan pengalaman di masa lalu, melalui penafsiran kata – kata.
  3. Ilustrasi gambar membantu para siswa membaca buku pelajaran terutama dalam menafsirkan dan mengingat – ingat isi materi teks yang menyertainya.
  4. Dalam booklet, pada umumnya anak – anak lebih menyukai setengah atau satu halaman penuh bergambar, disertai beberapa petunjuk yang jelas.
  5. Ilustrasi gambar isinya harus dikaitkan dengan kehidupan nyata, agar minat para siswa menjadi efektif.
  6. Ilustrasi gambar isinya hendaknya di tata sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan gerakan mata pengamat, dan bagian – bagian yang paling penting dari ilustrasi itu harus dipusatkan di bagian sebelah kiri atas medan gambar.

Mengamati pesan visual

Dalam hubungan ini, ada dua cara untuk menetukan apa yang diperhatikan siswa dari pesan – pesan visual yang mereka lihat.

Pertama, membuat kesimpulan berdasarkan apa yang dipelajari siswa dari materi gambar. Menurut para ahli ilmujiwa perilaku, cara mengamati dan apa yang diceritakan kembali oleh seseorang tentang materi gambar harus benar  benar diperhatikan karena hal itu amat penting bagi guru sebagai bahan masukan apakah siswa – siswanya memahami bahan pelajaran.

Kedua, tentukan pola gerakan – gerakan pengamatan, waktu siswa mengamati materi gambar yang serupa. Dalam hal ini tidaklah penting bagaimana reaksi siswa sewaktu mengamati materi gambar sebab yang yang lebih utama adalah apakah persepsi siswa terhadap materi gambar itu efisien, efektif atau tidak. Bisa saja para siswa itu sewaktu mengamati materi gambar dikacaukan oleh tanda – tanda, isyarat yang tidak relevan dengan isi pelajaran yang terkandung pada materi gambar.

Resume Buku Media Pengajaran

Resume buku media pengajaran
Karya Dr. Nana Sudjana dan Drs Ahmad Rivai

Bab I
Penggunaan media pengajaran dalam proses belajar mengajar
Kedudukan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar ada beberapa komponen metodologi sebagai salah satu lingkungan yang diatur oleh guru.
1. Nilai dan manfaat media pengajaran
✓ manfaat media dalam proses belajar siswa diantaranya:
a. Pembelajaran akan lebih menarik dan menumbuhkan motivasi siswa.
b. Bahan pengajaran akan lebih jelas sehingga siswa mudah memahami.
c. Metode pengajaran akan lebih variatif.
d. Siswa lebih banyak melakukan belajar mandiri.
2. Jenis dan kriteria media pembelajaran
✓Kreteria media pembelajaran
a. Ketepatannya dengan tujuan pembelajaran
b. Dukungan terhadap isi pembelajaran
c. Kemudahan memperoleh media
d. Ketrampilan guru dalam menggunakannya
e. Tersedianya waktu untuk menggunakannya
f. Sesuai taraf berfikir siswa
✓ Jenis media pengajaran
a. Media grafis
b. Media tiga dimensi
Contoh dari media grafis seperti: gambar, foto, grafik
Contoh dari media tiga dimensi seperti: film, slide

StrStrategi Membentuk Manusia Berkarakter

Strategi Membentuk Manusia Berkarakter

Untuk membentuk manusia yang berkarakter dapat dilakukan dengan menerapkan enam  rukun pendidikan berkarakter, enam rukun pendidikan karakter berikut adalah sebuah lingkaran yang utuh yang dapat diajarkan secara berurutan atau tidak berurutan. Enam  rukun pendidikan berkarakter sebagai berikut:

  1. Hebituasi (kebiasaan) dan pembudayaan yang baik
  2. Membelajarkan hal-hal yang baik( moral knowing)
  3. merasakan dan mencintai yang baik (Moral feeling and loving)
  4. tindakan yang baik (moral acting)
  5. Keteladanan (moral model) dari lingkungan sekitar
  6. Tobat (kembali) pada Allah setelah melakukan kesalahan

Penjelasan enam rukun pendidikan berkarakter adalah sebagai berikut:

  1. Hebituasi (kebiasaan) dan pembudayaan yang baik

Kebiasaan menurut Ibrahim Alfikiy (2012) adalah pikiran yang diciptakan seseorang dalam benaknya, kemudian dihubungkan dengan perasaan dan diulang-ulang hingga akal meyakininya sebagai bagian dari perilakunya. Hukum pembiasaan itu melalui enam tahapan yakni,

  1. Berpikir
  2. Perekaman
  3. Pengulangan
  4. Penyimpanan
  5. Pengulangan
  6. Kebiasaan

Penjelasannya sebagai berikut;

  1. Berpikir: seseorang memikirkan dan mengetahui nilai-nilai yang diberikan, lalu memberi perhatian, dan berkonsentrasi pada nilai-nilai tersebut.
  2. Perekaman: setelah nilai-nilai diterima, otak merekamnya.
  3. Pengulangan yakni seseorang memutuskan untuk mengulangi nilai-nilai yang baik itu dengan perasaan yang sama.
  4. Penyimpanan: perkaman yang dilakukan berkali-kali secara tidak sadar akan masuk kealam bawah sadar kita.
  5. Pengulangan : disadari atau tidak apabila pengulangan yang dilakuakan secara terus menerus akan nilai-nilai yang baik, akan tersimpan kuat dan masuk kedalam alam bawah sadar.
  6. Kebiasaan menjadi sebuah karakter arena pengulangan nilai-nilai yang baik yang berkelanjutan dan tahapan-tahapan diatas dilalui, akal manusia meyakini bahwa kebiasaan inilah merupakan sebuah bagian terpenting dari perilaku.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim yang artinya “perintahlah anak-anakmu menjalankan ibadah sholat jika mereka sudah berusia tujuh tahun. Dan jika mereka sudah berusia tujuh tahun, maka pukullah mereka jika tidak mau melaksanakanya dan pisahkanlah tempat tidur mereka” (HR.al-Hakim). Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwasananya pembiasaan baik harus dilakukan sejak kecil. Menurut Williah Kilpatrik yang dikutip Abdul Majdid dan Dian Andayani, (2011), salah satu penyebab ketidak mampuan seseorang berlaku baik meskipun ia memiliki pengetahuan tentang  kebaikan adalah ia tidak terlatih(terbiasa) untuk melakukan kebaikan.

  1. Membelajarkan hal-hal yang baik (moral knowing)

Kebiasaan-kebiasaan yang baik dilakukan seseorang atau hal-hal yang baru yang belum diketahui, harus diberi pemahaman dan pengetahuan tentang nilai-nilai manfaat, rasionalisasi dan akibat dari baik yang dilakukan. Mengajarkan yang baik,yang adil, yang bernilai, berarrti memberikan pemahaman dengan jernih kepada peserta didik apa itu kebaikan, keadilan, kejujuran, toleransi, dan lain-lain. Suatu tindakan tanpa adanya pemahaman dan pengertian, kesadaran dan kebebasan tidak mungkin ada sebuah tindakan berkarakter. Dalam islam pun tindakan akan dimintai pertanggungjawaban apabila yang melakukan sudah dewasa, berakal(berpengetahuan), dalam keadaan sadar, dan ada kebebasan untuk memilih. Sebuah tindakan yang tidak disadar, tidak dibimbing oleh pemahaman tetentu, dan tdak ada kebebasan, maka tindakan itu tidak memiliki makna bagi pelaku, karenatindakan yang tidak disadari, dan tidak dibimbing oleh pengetahuan tentangnya, maka tindakan itu adalah tindakan instingtif atau ritual yangmana lebih dekat dengan cara bertindak binatang.

  1. Moral feeling and loving / merasakan dan mencintai yang baik

Lahirnya moral loving berawal dari mindset(pola pikir). Pola pikir yang positif terhadap nilai-nilai kebaikan akan merasakan manfaatnya dari pedrilaku baik itu. Jika seseorang sudah merasakan manfaat dari kebaikan maka secara tidak sadar  akan melahirkan rasa sayang dan cimta. Perasaan cinta dan sayang padakebaikan menjadi power dan engine yang bisa ,membuat orang berbuat kebaikan melebihi dari sekedar kewajiban meskipun harus berkorban baik jiwa dan harta. Perilaku baik harus dirawat, dilindung.

  1. Moral acting (tindakan yang baik)

Setelah melewati semua tahapan diatas yang pada akhirnya membentuk karakter, dan tindakan kebaikan yang dilandasi oleh pengetahuan, kesadaran, kebebasan, kecintaan akan membentuk endapan pengalaman. Dari situlah semua akan terpatri dalam akal bawwah sadar dan menjadikan karakter seseorang.  Tindakaqn kebaikan harus diikuti dengan rasa senang hati karena apabila tidak diikuti rasa senang hati maka tindakan itu tidak akan menghantarkan menjadi sebuah karakter.

  1. Keteladanan (moral model) dari lingkungan

Fitah manusia pada dasarnya lebih banyak mencontoh dari apa yang ia lihat dan alami. Salah satu makna hakiki dari terma tarbiyah(pendidikan) adalah mencontoh atau imitasi. Keteladanan yang paling berpengaruh adalah  yang paling dekat dengan diri kita. Orang tua, sahabat, kerabat, ataupun pimpinan masyarakat dan siapapun yang sering berhubungan dengan seseorang tertama idolanya, hal ini akan menentuka proses pembentukan karakter. Jika lingkungan seseorang itu baik, jujur, berakhlak mulia, amanah dan menjauhkan dari hal-hal buruk maka seseorang pun akan mengikuti lingkunangnya, begitupun sebaliknya..lingkungan hidup seseorang sangat berpengaruh pada pola pikir, perbuatan sesorang.  Dan sebaik-baik teladan adalah Rosulullah saw.

  1. Tobat (kembali) kepada Alloh Swt setelah melakukan kesalahan

Tobat pada hakikatnya ialah  kembali kepada Allah setelah melakukan kesalahan. Tobat nasuha adalah bertobat dari dosa / kesalahan yang diperbuatnyasaat ini dan menyesal (muhaasabah dan refleksi)atas dosa-dosa yang yang dilakukannya dimasa lalu dan berjanji tidak akan mengulanginya dimasa yang akan datang serta bertekan berbuat kebaika dimasa yang akan datang. Amr bin Ala mengatakan “tobat nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaiman kamu pernah mencintainya”. Tobat akan membentuk kesadaran tentang hakekat hidup, tujuan hidup, melahirkan optimisme, nilai-nilai kebaikan, manfaat dan kehampaan dari dari tindakanya. Tidak ada tobat yanga dilakukan tanpa dimulai darti berpikir, pengetahuan, endapan pengalaman, kecintaan, kesadaran, penyesalan, kebebasan dan ingin berubah kearah yang positif. Proses tobat nasuha diantaranya dengan penyesalan terhadap perbuatan yang telah dilakukan, berhenti tidak akan mengulanginya, dan melakukan tindakan kebaikan guna untuk mengimbangi kebiasan yang lama.